Saya agak grogi untuk karya kedua ini. Sebelum naek cetak harus melewati telaahan Pak Amien Rais. Sebagai seorang junior, saya tentu merasa senang jika guru saya membaca terlebih dahulu. Akan tetapi, gugup karena ini pengalaman baru bagi saya. Apalagi setelah begitu banyak koreksi yang menurut saya penting dilakukan bagi sebuah buku yang membahas organisasi besar di Indonesia dan sebuah partai besar.

Sebulan sebelum mendapat kata pengantar, Pak Amien meminta waktu agar membaca naskahnya terlebih dahulu. Saya pikir beliau sibuk dan sempat berpikir waktu yang dibutuhkan akan sangat lama. Tentu saja di luar dugaan, saat pertemuan berikutnya, saya sudah diberi catatan pengantar dengan tulisan asli beliau.

Saya amat bersemangat untuk mengetik dan mengirimkannya ke editor. Pada akhirnya, beliau meminta cetakan contoh dan bertemu dengan saya kembali. Saking hati-hatinya, beliau menambahkan catatan dan mengoreksi buku serta memberi saran agar ada yang memberikan epilog. Beliau langsung memberi kode tokoh yang cocok memberikan epilog ini adalah Bapak Zulkifli Hasan. Setelah itu selang beberapa hari, saya menemui Bang Zul, panggilan akrab saya pada ketua MPR RI itu dan memintanya menulis epilog. Tidak menunggu lama, jadi sudah.

Dengan bismillah, saya persembahkan karya ini untuk anda semua. Manusia-manusia yang haus pengetahuan. Salam literasi.